Mengenal Media Penyimpan

Mengenal Media Penyimpan

Media penyimpan merupakan tempat kita menyimpan gambar. Sebelum era digital banyak dikenal orang orang telah lebih dahulu mengenal media penyampanan analog yaitu biasa memakai film. Tapi setelah ditemukan media digital dewasa ini banyak masyarakat beralih ke teknologi digital. Jadi secara umum media penyimpan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu analog dan digital.

A. Analog (film)

Media penyimpan analog yang umum dipakai adalah film. Film terdiri dari lapisan tipis yang mengandung emulsi peka diatas dasar yang fleksibel dan transparan.

1. jenis-jenis film

Ada dua jenis film yang beredar di pasaran, yaitu film negatif dan positif (slide). Film negatif terdiri dari dua jenis, yaitu berwarna dan hitam putih/BW. Pada film negatif warna yang terekam adalah kebalikan dari warna aslinya, tapi pada saat dicetak akan pada kertas foto akan muncul warna aslinya. Film negatif terdiri dari dua jenis yaitu film negatif warna dan film negatif hitam putih (BW). Sedangkan pada film positif warna yang terekam pada film sesuai dengan warna aslinya sehingga dapat ditampilkan dengan cara diproyeksikan pada layar dengan menggunakan proyektor. Disamping itu, film positif pun dapat dicetak untuk berbagai keperluan.

Untuk mendapat hasil yang masksimal, biasanya para fotografer profesional menggunakan film slide. Hal ini dikarenakan film slide mampu menampilkan warna gambar yang hampir sam dengan aslinya. Namun kekurangan dari film slide adalah harga film dan dan biaya prosesnya yang relatif lebih mahal daripada film negatif.

Berdasarkan formatnya, film dapat dikelompokkan menjadi beberapa ukuran. Dalam menentukan ukuran film yang dipakai disesuaikan dengan format kamera yang digunakan. Dengan adanya berbagai ukuran film ini, fotografer lebih mudah untuk menentukan kualitas hasil perbesaran yang diinginkan.

2. kecepatan film

Kecepatan film berarti kepekaan film terhadap cahaya. Kecepatan film dinyatakan dengan ISO atau ASA atau DIN.

ISO(International Standar Organization) adalah sebuah badan yang berwenang memberikan standar untuk katagori film-film yang digunakan di dunia fotografi. Bilangan ISO mengindikasikan seberapa besar kepekaan film terhadap cahaya. Makin kecil angka ISO, makin rendah kepekaanya terhadap cahaya. Sebaliknya, semakin tinggi angka ISO makin peka terhadap cahaya.

Selain ISO, istilah lain dari kecepatan film adalah ASA (American Standar Association). Umumnya istilah ini dipakai di wilayah Amerika. Kecepatan film diukur secara aritmatik. Untuk wilayah eropa, kecepatan film dinyatakan dengan DIN (Deutsche industrian nomen). Kecepatan film diukurr secara logaritmik.

Secara garis besar, ada 4 (empat) kelompok kecepatan film. Kecepatan film tersebut dipilih bukan hanya untuk menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan, tetapi juga untuk mencapai efek visual tertentu. Hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dilakukannya pemotretan.

 

a Film dengan kecepatan lambat/slow films (ISO 25-24)

Kelompok ini memberikan detil gambar yang sangat tajam dengan butiran (grain) yang sangat halus, kontras rendah, serta saturasi warna yang luar biasa. Film ini ideal untuk pemotretan arsitektur dan still life (pemotretan benda mati). Walaupun pencahayaan sanggat terang, seorang fotogrefer tetap membutuhkan kaki tiga (tripod) jika menggunakan kecepatan rana yang lambat. Dengan kualitas negatif yang sangat baik, cetakan foto ini dapat diperbessar sampai 50X60cm tanpa terlihai adanya butiran.

b Film dengan kecepatan sedang/medium films (ISO 100-200)

Kecepatan film medium merupakan kelompok film yang paling populer. Hasail cetakan tajam dengan butiran halus serta saturasi warna yang sangat jenuh. Film ini sangat ideal digunakan saat cuaca terang. Film ini sangat ideal digunakan saat cuaca terang. Keseimbangan warna merupakan selera pribadi. Seorang fotografer dianjurkan sering melakukan eksperimen beberapa merk film sampai menemukan film yang sesuai dengan selera.

c Film dengan kecepatan cepat/fast films (ISO 400)

Walaupun kualitas film ini memiliki butiran yang tidak begitu halus atau tidak setajam film medium dan slow, film ISO 400 telah mengalami banyak perbaikan selam beberapa tahun terakhir. Kecepatan film yang lebih tinggi memungkinkan kamera menggunakan kecepatan rana (shutter) yang lebih tinggi pula. Kecepatan tinggi pada film dan shutter mampu mengabadikan objek bergerak dengan lebih tajam. Selain itu, memungkinkan lensa diatur dengan diafragma lebih besar sehingga ruang tajam (depth of fild) menjadi lebih lebar. Film ISO 400 memberikan kesempatan untuk memotret dalam kondisi pencahayaan kurang tanpa lampu kilat. Umumnya foto-foto yang diambil dalam cahaya alam (natural light) memberikan hasil yang lebih halus dan menarik.

d Film dengan kecepatan sangat cepat5/ultra fast films (ISO 800 keatas)

Film ini dirancang untuk pencahayaan rendah dengan cahaya pemotretan seadanya. Gambar yang dihasilkan memiliki butiran yang kasar. Dalam beberapa tahun terakhir, film jenis inipun mengalami banyak perbaikan. Film ini tidak hanya digunakan untuk pemotretan pada pencahayaan rendah, tetapi juga merupakan sebuah pilihan yang cukup kreatif. Warnw-warnw lembut dengan butiran kasar menampilkan efek khusus sehingga dapat digunakan pada beberapa objek pemotretan.

3. Kode DX (DX Coding)

Kode DX adalah metoda yang memungkinkan kamera elekronik membaca ISO film yang dimasukkan ke dalam kamera. Tanda dalam tabung film akan dibaca oleh kamera sehingga kamera dapat mengenali tipe film yang digunakan.

Kode DX memberikan kemudahan kepada fotografer sehingga tidak perlu pengaturan kecepatan film pada kamera secara manual tidak perlu dilakukan lagi. Penggunaan kode DX akan memperkecil kesalahan pada pengaturan ISO film yang dipakai, juga mempercepat proses penggantian film. Jika fotografer sering mengganti film dengan ISO yang berbeda-beda atau terburu-buru sehingga lupa mengatrur ISO secara manual kehadiran kode DX akan sanggat membantu.

 

 

 

4. Memilih kepekaan/ISO film

Biasanya fotografer harus memilih film dengan kecepatan yang sesuai dengan kondisi pencahayaan. Gunakan fil cepat (ISO 400 ke atas) pada kondisi pencahayaan yang kurang dan film kecepatan menengah atau lambat pada pencahayaan yang terang.

Untuk pemotretan umum, film kecepatan menmengah (ISO 100 dan 200) paling fleksibel. Cukup cepat untuk di luar ruangan atau hari berawan dan cukup lambat untuk memperoleh pilihan kecepatan rana dan diafragma pada hari cepat.

Jika mempunyai rencana untuk mencetak foto lebih besar dari 28X30cm, gunakan film lambat, seperti ISO 25. Cara ini akan mencegah munculnya butiran kasar pada foto. Kekasaran butiran foto adalah corak berpasir yang akan tampak jika film negatif atau slide diperbesar beberapa kali lipat. Kekasaran akan bertambah dengan bertambahnya kecepatan film. Jadi pilihlah ISO film yang cocok untuk tujuan pemotretan.

 

 

B. Digital

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s